Tag Archives: Opini Bebas

Bubble Properti

Semenjak tahun 2008, saat dunia mengalami krisis ekonomi karena subprime mortgage yang dimulai dari Amerika Serikat, properti di Indonesia malahan mengalami masa-masa keemasannya. Harga properti terus naik, setiap produk baru yang diluncurkan oleh pengembang untuk pasar primer selalu habis diserap oleh masyarakat. Salah satunya disebabkan karena kenaikan jumlah kelas menengah di Indonesia. Dengan semakin meningkatnya pendapatan perkapita kelas menengah di Indonesia, tentu makin meningkatkan daya belinya. Keluarga muda yang pada awalnya masih menumpang di mertua estate indah atau ngontrak sana-ngontrak sini, akhirnya sudah pede untuk membeli rumah pertama mereka. Tentu sebagian besar membeli menggunakan KPR dari bank (kecuali uangnya ambil dari Bank Ortu, sih lain ceritanya), sampai akhirnya membuat Bank Indonesia agak deg-degan sehingga memberlakukan aturan-aturan baru untuk KPR. Continue reading

Gaya Hidup Anggota DPR

Baca berita di detik hari ini, bener-bener bikin shock walaupun sebenernya sudah jadi rahasia umum. Gimana gak shock coba kalau bisa dengan bangga pamer jam tangan Rolex yang harganya puluhan bahkan ratusan juta rupiah, sedangkan masih banyak rakyat Indonesia yang masih hidup susah. Apa pantas bagi seorang yang mengaku wakil rakyat memamerkan kekayaannya, padahal rakyat diwakilinya masih banyak yang susah? Continue reading

Kesuksesan Semu

Semua orang di dunia ini rasanya ingin sukses, perasaan ingin sukses ini bahkan tanpa kita sadari sudah tertanam sejak kecil. Saya ingat dulu saya selalu tidak mau kalah dengan teman-teman saya saat di sekolah dasar, saya berusaha untuk rangking 1, minimal bisa masuk ke dalam posisi tiga besar, dan itu tidak ada yang mengajarkan kepada saya. Saat sudah dewasa dan berusaha mandiri dan tidak ditopang lagi oleh orang tua, saya berusaha juga membandingkan diri saya dengan teman-teman dan saudara-saudara saya. Apa yang saya bandingkan? Jelas kesuksesan secara finansial, mulai dari pendapatan bulanan (gaji), barang-barang konsumtif dan pada akhirnya kendaraan oribadi dan rumah.

Rasa bersaing dan ingin sukses ini sebenarnya wajar, karena memang kita dituntut untuk menjadi kepala dan bukan ekor, untuk menjadi pemenang dan bukan pecundang. Namun sayang sekali seringnya standar kesuksesan yang kita pakai adalah standar umum atau standar dunia yang hanya mementingkan pemuasan nafsu belaka saja dan konsumerisme. Hal ini lah yang membuat banyak orang mengambil jalan pintas untuk sukses, padahal itu adalah kesuksesan yang semu, yang sementara dan sering ujungnya adalah kemalangan, malu, dan duka cita. Mungkin kita semua tahu kasus mengenai penggelapan dana nasabah di salah satu bank asing oleh petinggi banknya, seorang wanita yang dianggap sukses dengan mobil-mobil mewah yang bagi banyak orang (termasuk saya sendiri) hanya bisa diangan-angankan saja di dalam mimpi. Namun toh kesuksesan yang terlihat, kebahagiaan yang terlihat oleh banyak orang semuanya menjadi hancur begitu terbuka dari mana asal semua kesuksesan dan harta itu, yang ada sekarang tinggal perasaan malu akibat cemoohan orang-orang sekitar, dukacita karena semuanya akan disita oleh polisi dan harus mendekam dalam penjara untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.

Saya tidak berusaha menghakimi wanita ini, tapi malah bersykur karena dia saya yang juga rasanya ingin cepat-cepat sukses, cepat-cepat kaya mulai merenungan apa arti kesuksesan yang sesungguhnya. Berusaha minta ampun dan bertobat bila selama ini bukannya mengucap syukur atas apa yang telah diterima dari Tuhan melainkan selalu merasa kekurangan.

Harta dan kesuksesan yang kita peroleh tidaklah berarti dibandingkan dengan keluarga, dibandingkan dengan keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Sukses memang harus kita capai tapi dengan cara yang halal, dan dipakai bukan untuk pemuasan nafsu kita melainkan semua untuk kemuliaan-Nya saja. Apabila semua prinsip-prinsip Tuhan kita jalankan, tidaklah perlu kita kuatir akan apapun juga.

Saya juga tetap berusaha untuk sukses di bidang saya namun di sisi lain saya juga harus seimbang dengan waktu untuk keluarga (sebentar lagi akan hadir anggota baru di dalam rumah saya, yang ingin saya gendong-gendong) dan waktu untuk beribadah kepada-Nya. Semoga Tuhan selalu terus mengingatkan saya dan saudara agar jangan salah jalan dan silau dengan kesuksesan semu yang malah akan mendatangkan malapetaka.